Diskusi: Sejarah Gudeg di Yogyakarta

Sejarah Gudeg di Yogyakarta

‘Urun Rembug’ Sejarah Gudeg di Yogyakarta
Tulisan ini bukanlah sebuah ‘kekancingan’ dari sejarah hadirnya gudeg sebagai salah satu kekayaan makanan tardisioanal Nusantara. Namun merupakan wacana terbuka yang masih dapat didiskusikan dan diluruskan demi mendapatkan kebenarannya. Sumber informasi didapatkan dari hasil obrolan dengan Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kota Yogya, serta berbagai sumber lainnya. Semoga dapat bermanfaat.

Gudeg bagi sebagian orang asli Yogyakarta, yang lahir sebelum era kemerdekaan, seperti Mbah Pawiro Wiyono (75 tahun), petani buta huruf warga Desa Tlogoadi Kecamatan Mlati merupakan lauk pauk yang sudah dikenalnya sejak kecil. Nasi gudeg, demikian ia menyebut makanan tradisional masyarakat Yogyakarta yang terus eksis hingga sekarang. Mbah Pawiro menyebut gudeg sebagai makanan dari gori (nangka muda) yang rasanya manis tapi gurih, karena tambahan bumbu arehnya (santan kental) dan ampas minyak kelapa (klendo) yang lezat. Ditambah lauk pauk lainnya seperti tahu, sambal krecek dan daging ayam. Artinya, lelaki tua ini hanya mengenal gudeg basah. Kalau begitu, kapan orang Yogya mengenal gudeg kering yang relatif lebih awet dan tahan lama?

Gudeg-Ceker

Gudeg Ceker

Saat menelusuri ke beberapa sumber, sampai ke Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kota Yogya. Di sana ada jawaban yang dapat saya temukan. Lewat Pak Herman, Kasi Pemasaran di instansi tersebut, yang ternyata cukup kaya wawasan dan pengalaman soal makanan tradisional di Yogya. Gudeg, menurut hasil obrolan saya dengannya, bukan berasal dari dalam lingkungan Kraton Yogyakarta. Namun merupakan makanan tradisional masyarakat. Gori atau nangka muda, adalah bahan baku utama gudeg yang lebih umum dikenal. Sebab di masa lalu, bahan baku ini sangat mudah diperoleh di kebun-kebun milik masyarakat Yogyakarta. “Walaupun ada pula bahan lainnya seperti manggar (pondoh kelapa), karena dulu batang pohon kelapa kerap dijadikan bahan bangunan dan jumlahnya banyak, tidak seperti sekarang.
Selain itu ada pula gudeg dari rebung (anakan pohon bambu), tapi yang ini sekarang amat langka dibuat gudeg,” sebut Herman. Menurut Herman pula, di jaman dulu orang Yogya hanya mengenal satu jenis gudeg, yakni gudeg basah. Gudeg kering dikenal setelahnya, sekitar 57-an tahun dari saat sekarang ini. Hal ini setelah orang-orang dari luar Yogya mulai membawanya sebagai oleh-oleh. Keuntungannya, gudeg pun tumbuh sebagai home industry makanan tradisional di Yogya.
Lalu berdasarkan literatur sejarah Mataram Islam yang ditulis oleh Haji de Graf, masakan gudeg bahkan tidak dikenal. Di bagian ketika Ki Ageng Pemanahan melakukan bedhol desa atas titah Sultan Hadiwijaya dari wilayah Surakarta ke Alas Mentaok, masuk ke daerah Kotagede, yang dikenal sebagai ibukota Mataram lama. Sebelum masuk ke Kotagede, rombongan Ki Ageng Pemanahan dijemput di Ki Gede Karanglo pinggir Sungai Opak. (Jangan bayangkan kondisi sungai ini di zaman dulu dengan sekarang).
Rombongan tamu terhormat diminta menyeberang sekalian berbasuh di sungai itu, yang diyakini akan segera membuang lelah dan penat. Seusai menyeberang dan berbasuh, rombongan itu diterima di kediaman Ki Gede Karanglo, dijamu dedhaharan (suguhan nasi dengan lauk pauknya). Haji de Graf amat detail dan ‘cantik’ melukiskan apa saja yang disuguhkan kepada Ki Ageng Pemanahan dan rombongannya, yakni sayur pecel, peyek atau rempeyek kacang dan sayur kenikir. Tentunya hal ini pun menimbulkan pertanyaan dan misteri yang pantas diungkap lebih jauh. Mengapa sejarah sayur pecel di Yogya justru hilang. Justru yang dikenal malahan Madiun, yang lalu dijuluki ‘Kota Pecel’. Bahkan sekarang orang lebih mengenal Yogya sebagai Kota Gudeg. Padahal, karena ada sumber literaturnya, seharusnya orang Yogya dapat mengklaim daerahnya sebagai asal sayur pecel.
Kembali lagi ke soal gudeg, ketika kami membahas kemungkinan makanan ini merupakan bekal berperang bagi pasukan Sultan Agung saat menyerbu Batavia, ternyata juga tidak tepat dianggap demikian. Apalagi tak ditemukan adanya literatur yang menyebutkan hal ini. Seperti disebut di bagian awal, di masa lalu orang Yogya belum mengenal gudeg kering yang biasa ditaruh di besek atau kendil, serta awet dibawa ke luar kota. “Pada penyerbuan pertama ke Batavia di tahun 1726-1728, pasukan Sultan Agung kalah. Setelah dibahas bersama para penasihat dan panglima perangnya, kekalahan pasukannya karena banyak yang mati dan lelah akibat kelaparan. Kesimpulannya, pasukan mereka butuh beras untuk tetap kuat sampai ke Batavia,” ujar Herman ketika menceritakan kembali penyerbuan itu, berdasarkan literatur yang dibacanya.

Lalu akhirnya pada penyerbuan pasukan Sultan Agung yang kedua kalinya, dibuatlah daerah-daerah logistik di kawasan Pantura. Dari sinilah muncul wilayah yang disebut Batang, Brebes, Bumiayu dan lainnya, yang menjadi lumbung beras bagi pasukannya. “Soal lauk pauknya apa, ya apa yang dapat dimasak di daerah logistik tersebut. Tidak harus gudeg, apalagi belum ada gudeg kering. Selain itu berdasarkan informasi dari abdi dalem Kraton Yogyakarta yang sudah sepuh, menu gudeg tidak berasal dari dalam istana. Tidak seperti stup jagung, yang memang dari istana karena menjadi klangenan salah satu sultan,” lanjut Herman. Tentu saja penuturan ini bukanlah sebuah akhir dari suatu diskusi tentang sejarah gudeg. Sebab siapa tahu, ada yang dapat menjelaskan lebih baik lagi. Misalnya, mengapa di dekat lingkungan Kraton Yogyakarta (kawasan Beteng di Jl Wijilan) ada banyak penjual gudeg? Apa kaitannya dengan kraton? Semoga diskusi tentang makanan tradisional ini menjadi semakin ramai.

(Hari Sunanto, redaktur wisata SKH Kedaulatan Rakyat) Alamat rumah:
Dusun Duwet RT07/RW34 No 15 Desa Sendangadi Kecamatan Mlati Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Indonesia, ZIP Code: 55285 email: pundi_berkah@yahoo.co.id No hp: 0817268452 Telp. Kantor: 0274-565.685 (hunting)

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1652635-urun-rembug-sejarah-gudeg-di/

Categories: Pengetahuan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.