Yogyakarta antara Gempa dan Merapi

Secara Geografis, DI Yogyakarta dikelilingi oleh pegunungan dan lautan. Bagian sisi utara terdapat gunung Merapi yang hingga saat ini masih diakui sebagai salah satu gunung berapi teraktif di dunia, di bagian sisi barat terdapat pegunungan Menoreh, membujur dari barat selatan (pantai) hingga ke barat utara (Borobudur), pada sisi timur juga membentang pegunungan Gunung Kidul, sedangkan bagian selatan langsung berbatasan dengan Samudera Hindia.

Itu adalah batas alam yang tampak dengan kasat mata, sedangkan yang tidak tampak, berada jauh di bawah Yogyakarta yaitu lempeng bumi. Itulah alam yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya, sehingga itu menjadi salah satu ancaman alam di Yogyakarta ini yang paling ditakuti.

Ingatkah kita saat terjadi gempa besar pada tanggal 27 Mei 2006,  aktifitas gunung Merapi juga tinggi pada saat itu. Saya adalah orang awam ketika membicarakan tentang ilmu vulkanologi, geologi, dan apa namanya itu, tetapi sebagai warga Yogyakarta saya merasakan adanya hubungan antara aktifitas gunung Merapi dan Gempa.

Pada tanggal 21 Agustus 2010 dan 12 September 2010 Yogyakarta kembali di goyang Gempa 5,0 SR, dan kemudian pada tanggal 24 September 2010 status gunung Merapi naik karena hasil evaluasi selama seminggu sebelumnya aktivitas Merapi lebih tinggi dari biasanya. Itu hanya salah satu bukti saja, masih banyak kejadian-kejadian lain pada tahun-tahun yang lalu hampir serupa dengan kejadian tersebut.

Jadi, kebanyakan warga Yogyakarta selalu berpikiran demikian, ketika gempa terjadi pasti tidak lama lagi Merapi akan menggeliat, atau ketika Merapi naik aktivitasnya, pasti diikuti Gempa vlkanik di sekitar Merapi dan juga gempa tektonik di sekitar Yogyakarta..

Cerita 27 Mei 2006.

Setelah terjadi gempa 27 Mei 2006, saya langsung berkeliling melihat keadaan. Sesampai di Jalan Kaliurang, jalanan menjadi macet Total yang sangat panjang. Aku pun penasaran, kutanya warga setempat apa yang terjadi,,

Begitu mendengar ceritanya, aq sempat tertawa terbahak-bahak… begini:

” Warga pesisir pantai mendapat isu jika akan terjadi Tsunami yang sangat besar, sehingga mereka semua pergi mengungsi ke tempat yang tinggi, salah satunya di gunung Merapi.

Warga lereng gunung Merapi mendapat isu juga bahwa aktivitas Merapi menjadi sangat tinggi, dan mereka harus meninggalkan gunung Merapi.

Akhirnya yang terjadi, dari dua pihak yang keras kepala ingin menyelamatkan diri, yang terjadi adalah jalannan digunakan 1 arah, akhirnya ketika berhadap-hadapan, tidak bisa maju maupun mundur… Macet deh…”

–yudhipri–

Categories: Catatan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.