Benthik

Kata benthik mempunyai arti bentur. Benturan tersebut biasanya menghasilkan bunyi “thik”. Hal ini dapat dilihat dalam permainan itu sendiri, yaitu dengan alat kayu yang digunakan dengan ukuran berbeda, panjang disebut benthong dan pendek disebut janak. Benturan antara benthong dan janak itu menimbulkan suara thik. Nah, dari suara itulah kemudian muncul penamaan permainan itu, yaitu benthik. Sebagai satu permainan tradisional yang pada umumnya dimiliki oleh masyarakat luas maka keberadaan permainan benthik antara daerah satu dengan daerah lain kadang memiliki suatu perbedaan sehingga menjadi variasi permainan. Misalnya, benthik Semarang akan lain dengan benthik Yogyakarta, demikian pula dengan benthik Surakarta (Dharmamulya dkk, 2005).

Asal-Usul permainan benthik sampai sekarang belum dapat diketahui secara pasti, kapan dan dari mana. Namun, seperti permainan tradisional (anak) lainnya, permainan benthik sudah dikenal sejak dahulu dan merupakan satu permainan yang cukup populer di masyarakat Jawa karena terbukti dikenal di beberapa kota di Jawa.

Dilihat dari pelaksanaannya, bagi anak-anak pedesaan, Permainan benthik hanya dapat dilaksanakan pada waktu siang hari. Itu pun jika dalam cuaca yang tidak hujan. Namun demikian, <arena sifat utama dalam permainan adalah hiburan maka pelaksanaannya seringkali ketika anak-anak sedang waktu longgar (tidak membantu pekerjaan orang). Misalnya, waktu sore hari, atau pagi hari ketika libur sekolah dan waktu luang lainnya. Selain itu, permainan ini juga seperti permainan tradisional lainnya, yaitu bahwa pelaksanaannya bersifat musiman (waktu-waktu tertentu saja). Misalnya, libur sekolah, pergantian musim, ataupun musim panen.

Tempat pelaksanaan permainan benthik membutuhkan lahan yang cukup luas. Hal itu dikarenakan sistem permainan atau aturan permainan serta alat yang dibutuhkan maupun pemain yang terlibat dalam permainan. Pada umumnya, tempat yang digunakan untuk pelaksanaan permainan benthik ini, jika di daerah pedesaan adalah di halaman yang luas atau di kebun yang kosong (tidak ada tanamannya) atau di lapangan, bahkan di ladang kering yang habis dipanen.

Permainan ini, pada umumnya bersifat kelompok. Namun demikian, dapat pula dilakukan secara individu (bukan kelompok). Permainan benthik yang bersifat tidak kelompok ini dilakukan ketika anak yang bermain tidak mencukupi dari ketentuan kelompok itu. Misalnya, hanya terdiri dari 3 orang. Namun, dalam penulisan buku ini, yang akan dibahas adalah permainan benthik yang dilaksanakan secara kelompok. Sesuai sifat permainan tradisional yang bersifat kelompok maka permainan benthik harus dilakukan dengan jumlah pemain yang genap karena masing-masing pemain mempunyai incon (lawan) sendiri-sendiri. Ini konsekuensinya nanti dalam hukuman yang disepakati, di mana masing-masing pemain akan menghukum atau dihukum oleh lawan mainnya (incon). Jumlah pemain dalam benthik sebenarnya tidak dibatasi, hanya saja biasanya antara 4 sampai 6 orang setiap kelompoknya. Hal ini disebabkan beberapa faktor, di antaranya bahwa untuk mengumpulkan lebih dari 12 anak dalam satu jenis permainan cukup sulit. Jika kurang dari 4 orang tiap kelompoknya dianggap kurang seru, namun demikian sering pula hanya 3 orang tiap kelompoknya.

Permainan benthik dapat dilakukan oleh anak laki-laki maupun perempuan. Hanya saja, biasanya jika pemain laki-laki ya laki-laki semua atau jika wanita ya wanita semua. Jika sampai dilakukan oleh dua kelompok yang anggotanya ada yang wanita maupun laki-laki, mereka sudah mengukur kekuatan atau kemampuannya dalam ikut serta dalam permainan itu karena dalam permainan ini dibutuhkan keberanian (alat yang digunakan keras sehingga dapat mencederai) dan ketrampilan (melempar, menangkap, mengarahkan terbangnya alat permainan serta memukul). Usia anak yang memainkan benthik ini, pada jaman dahulu kira-kira anak berumur 10-15 tahun (Dharmamulya dkk, 2005) tetapi sekarang biasanya anak yang berumur 8-11 tahun karena anak­anak sekarang dengan konsumsi gizi serta pendidikan yang baik menjadi cepat besar sehingga anak yang berusia 15 tahun (sederajat dengan anak kelas 2 atau 3 SLTP) sudah malu untuk melakukan permainan ini.

Dalam permainan benthik, alat yang diperlukan cukup sederhana. Hal ini seperti permainan tradisional lainnya bahwa biasanya perlengkapan yang digunakan cukup sederhana dan ada di lingkungan mereka sendiri sehingga tidak memerlukan biaya. Sifat sederhana itu tampak pada alat yang digunakan, yaitu berupa kayu kecil, biasanya dari ranting pohon yang keras (jambu, sawo) atau batang pohon yang kecil (ram/). Kira-kira sebesar ibu jari. Mengapa? Karena kalau besar atau terlalu besar alat itu dapat mencederai pemain. Alat itu, pada jaman dahulu cukup mudah untuk didapat, namun seiring dengan perkembangan jaman dan alam pikiran anak-anak maka dewasa ini jika tidak didapat maka alat permainan pun dapat disederhanakan lagi, misalnya hanya memakai bilah bambu (wilah) atau ranting bambu. Ukuran panjang alat yang digunakan ada dua, yaitu panjang dan pendek, perbandingannya adalah 1:3. Jadi, jika yang pendek disebut dengan janak berukuran 15 cm maka idealnya benthong 45 cm. Bagi anak-anak desa, pengukuran dengan centimeter tidak lazim, biasanya yang digunakan adalah jengkal. Jadi, kalau janak sepanjang satu jengkal maka benfhongnya 3 jengkal atau mini­mal 2,5 jengkal. Dalam membuat janak dan benthong itu pun mesti dipertimbangkan proporsinya, jangan sampai janak lebih besar atau lebih berat dari benthong karena kalau demikian maka benthong akan mudah patah.

Categories: Permainan Tradisional Jawa | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.